Friday, 18 December 2015

Film | Bulan Terbelah di Langit Amerika

Friday, 18 December 2015
Akhirnya ngeblog juga setelah sekian lama vakum fokus ngrampungin Iyang molornya udah nggak kira-kira ahahaa. Gimana, sudahkah agenda 2015 tercapai semua? Kalau saya sih, ada yang sudah ada yang belum. Wajar lah ya hehehe.

Kali ini ngeblog yang ringan-ringan ajalah ya, kan abis vakum *emang kapan perbah bahas bahasan berat, hm? LOLOL*.

Kemarin saya baru saja nonton salah satu film yang saya tungguin tayang di tahun ini, Bulan Terbelah di Langit Amerika. Alhamdulillah, saya puas nontonnya dan bisa mengobati kekecewaan saya sama Inferno yang batal tayang bulan ini dan diundur sampai Oktober 2016 (apa-apaan mundurnya almost setahun!).



Berhubung baru tayang kemarin jadi nggak bakal cerita detail soal filmnya, nanti jadi nggak seru lagi nontonnya. Ya, kan? Hmm... tapi boleh lah sedikit kasih spoiler :D

Friday, 20 February 2015

Drama di Bandara

Friday, 20 February 2015
Sedih ya kalau lihat berita seputar penerbangan di Indonesia. Tigerair Mandala yang tidak beroperasi lagi (hiks!), pesawat Air Asia yang jatuh hingga yang paling baru adalah delaynya Lion Air yang menyebabkan drama di bandara. Ngomong-ngomong soal drama di bandara, ada yang pernah ngrasain?

Saya pernah. Kebetulan juga dengan maskapai yang sama. Bahkan kalau ingat ini, jengkel sekaligus sedih masih sering saya rasakan. Padahal kan pengennya drama yang bikin gremet-gremet a la Cinta Rangga ya? Zzzzz...

Jadi tahun 2011 lalu, saya ikut sebuah acara mahasiswa se-Indonesia di Makassar. Itu pertama kalinya saya terbang jauh dari rumah dan tanpa orang tua. Ke sana bersama rombongan mahasiswa dan para dosen dengan Lion Air PP. Seluruh tiket diurus kampus, kami tinggal trima duduk saja. Keberangkatan dari Jogja trus Jakarta sampai Makassar mulus tanpa suatu apapun. Saya nggak inget ada ngomel soal ngaretnya jam terbang atau apapun saat flight keberangkatan. So, anggep aja penerbangan pas berangkat OK ya. Soal kenyamanan saya nggak protes. Menurut saya, ya udahlah lah yaaa... Nama pun gretong (kampus yang bayar).

Nah, drama terjadi saat kepulangan.

Monday, 12 January 2015

Parkir

Monday, 12 January 2015
Marilah postingan pertama di tahun 2015 ini diisi dengan curhatan soal parkir-parkiran...

Saya termasuk orang yang suka senewen kalau berurusan sama parkir. Nggak sekali dua kali urusan parkir jadi drama. Beberapa bulan lalu sempet adu mulut sama tukang parkir di Malioboro tengah. Ini tukang rese banget. Udahlah dia nggak pakai seragam, ngomongnya sengak bentak-bentak, nggak boleh ngunci kendaraan dan nggak ngasih karcis parkir! Pas sini minta karcis dia malah ngusir! Yup, saya diusir suruh parkir di tempat lain kalau nggak mau ikutin rules dia. BAGOOOSSS... *jambak jambak*. Akhirnya daripada tensi naik dan insecure sama motor mending milih buat pindah tempat parkir.

source

Friday, 7 November 2014

Pembebasan Visa

Friday, 7 November 2014
Saya cukup awam soal ginian. Tapi rasanya sedih sekali pas denger berita pembebasan visa untuk 5 negara. Bukan apa-apa sih, saya tahu banget negara ini butuh pemasukan yang salah satunya dari sektor pariwisata. Saya berasa sedih dan menyayangkan ini karena merasa semakin minor aja. Visa on Arrival aja udah bikin saya ngerasa minor, apalagi kalau dibebasin :(.

Alasan paling egois adalah yaa kita taulah gimana "derita" WNI ngurus visa buat ke sana. Tahu sendiri lah gimana repotnya ngurus visa dengan standar-standar mereka. Udahlah lebih mahal biaya visa, tiket PP, dokumen seabrek anu inu, (secara nggak langsung) pake minimal tabungan pula eerrr. Mungkin biaya ngurus visa mereka emang nggak seberapa, tapi anu inu blablabla itu yang suka bikin jiper keder duluan. Trus ini mereka mau gampang aja ke sini, gitu? Ahhhh, aku kok nggak relaaaa...

Wednesday, 5 November 2014

Potong Rambut

Wednesday, 5 November 2014
Kalau dulu awal-awal kenal facial, salon deket rumah pun jadi. Makin dewasa *ceilah*, saya makin selektif apalagi semenjak udah cocok sama skin care tertentu. Dari skin care trus cecentilan ngencanin day spa dan jadilah addict seperti sekarang. Dan dari sejak itu, mungkin ada lah 5 tahunan lalu, saya mulai nggak pernah sentuh yang namanya salon khusus rambut. Meskipun di sana juga menawarkan massage dan lulur tetep aja mindset saya: body treatment di salon rambut nggak bisa se-oke day spa.
THE SWEET-ART LIFE © 2014