Friday, 20 February 2015

Drama di Bandara

Friday, 20 February 2015
Sedih ya kalau lihat berita seputar penerbangan di Indonesia. Tigerair Mandala yang tidak beroperasi lagi (hiks!), pesawat Air Asia yang jatuh hingga yang paling baru adalah delaynya Lion Air yang menyebabkan drama di bandara. Ngomong-ngomong soal drama di bandara, ada yang pernah ngrasain?

Saya pernah. Kebetulan juga dengan maskapai yang sama. Bahkan kalau ingat ini, jengkel sekaligus sedih masih sering saya rasakan. Padahal kan pengennya drama yang bikin gremet-gremet a la Cinta Rangga ya? Zzzzz...

Jadi tahun 2011 lalu, saya ikut sebuah acara mahasiswa se-Indonesia di Makassar. Itu pertama kalinya saya terbang jauh dari rumah dan tanpa orang tua. Ke sana bersama rombongan mahasiswa dan para dosen dengan Lion Air PP. Seluruh tiket diurus kampus, kami tinggal trima duduk saja. Keberangkatan dari Jogja trus Jakarta sampai Makassar mulus tanpa suatu apapun. Saya nggak inget ada ngomel soal ngaretnya jam terbang atau apapun saat flight keberangkatan. So, anggep aja penerbangan pas berangkat OK ya. Soal kenyamanan saya nggak protes. Menurut saya, ya udahlah lah yaaa... Nama pun gretong (kampus yang bayar).

Nah, drama terjadi saat kepulangan.

Masing-masing dari kami membawa print-printan sementara yang berisi kode booking dan identitas diri yang kampus berikan beberapa hari sebelum capcus ke MakassarKarena rombongan kami kek rombongan transmigran, jadilah urusan check in kali ini di urus oleh perwakilan (pas berangkat kami mengurus check in secara mandiri). Pas sang perwakilan ngebagiin boarding pass, nama saya kok nggak disebut yes? Akhirnya saya dan dia ke counter kemudian saya diberi boarding pass dengan tulisan tangan, nggak diprint. Duh, feeling saya udah nggak enak. Saat saya tanyakan, petugas counter pun njawabnya ribet dan dia bilang kalau "nggak papa" "nanti di sana". Semacam itu lah. 

Okay. Saat itu saya mikir oh mungkin tintanya abis? Soalnya meski itu tulisan tangan, tapi kertasnya pakai kertas boarding pass. Saat bayar airport tax pun petugas oke-oke aja. Saya sama sekali belum pernah punya pengalaman soal gini. Jadi meski feeling sempat nggak enak, toh saya masih husnudzon.

Saat panggilan boarding, saya yang lagi haha-hihi sama teman-teman langsung bengong pas saya dicegat nggak boleh masuk ketika menunjukkan boarding pass milik saya. What?! Setelah chit-chat singkat cerita soal check in tadi, saya mulai emosi pas petugas bandara malah nanyain apa benar saya sudah beli tiket. Dan ternyata yang kecegat sama petugas nggak cuma saya aja. Honestly, walaupun jengkel, saya lega juga akakakak! :)))

Hingga seluruh rombongan naik, kami masih ada di pintu dan ngomel-ngomel. Untung ada teman rombongan yang orangnya masih bisa ngomong halus di situasi begitu. Dia ngomong pelan-pelan sama petugas jaga. Petugas jaga yang cowok bilang sebentar-sebentar dan dengan sopan menyuruh kami menunggu untuk dicarikan kursi. Tak lama kemudian ada mbak-mbak keluar dari pesawat dan bilang kalau kursi penuh. Tssaakeeppp! Dan langsung kami mulai waswiswus. Sebenernya saya pengen ngamuk-ngamuk, karena gimana bisa mereka jual tiket yang nggak ada kursinya. 

Entah gimana ceritanya, si petugas cewek malah nyalak. Darah saya kan jawa dan saya paling nggak tahan kalau dibentak. Bukan, bukan untuk mewek. Saya nggak tahan dibentak karena saya pasti akan bales bentak juga. Dasarnya waktu itu saya masih kebawa emosi karena malam harinya pas belanja di deket Losari saya kecopetan dan si toko -diduga- dengan kampretnya ngehapus rekaman CCTV (diduga begitu karena saat saya minta buat lihat rekaman CCTV, si pemilik bilang nggak bisa mengoperasikan rekaman, dan ketika saya balik ke toko lagi dengan polisi-polisi, ternyata si pemilik bisa mengoperasikan rekamannya dan rekaman di waktu saya kehilangan udah nggak ada. Jadi rekamannya cuma merekam kejadian sebelum (?) dan sesudah perkiraan waktu saya kecopetan. Kan sedih.). Untung polisi Makassar cukup kooperatif membantu. Walaupun si dompet nggak balik, setidaknya saya cukup senang karena mendapat pelayanan yang baik dari polisi.

Okay, lanjut lagi. 

Setelah bentak-bentakan itu, akhirnya kami minta ketemu sama yang bertanggung jawab. Kemudian datang seorang lelaki muda (untung nggak ganteng ahahahaa) yang mengaku sebagai manager apa entah lah (manager Lion Air kali ya) dan langsung meminta maaf walaupun dia nggak menjelaskan kenapa hal kampret begini bisa terjadi. Sebagai permintaan maaf, kami digiring ke executive lounge dan berhak ngendon di sana sampai penerbangan kami nanti. Kami pun langsung ambil meja paling geday. Tak lama si manager datang lagi dan membawakan sejumlah boarding pass (kali ini di print!) sembari meminta maaf lagi.

Walaupun hati dongkol dan loungenya nggak bagus-bagus amat (pleeuus makanannya standar dan bakso yang hambar ehehehee), tapi kami lumayan adem. Setidaknya karena ada pihak yang bertanggung jawab dan pastinya boarding pass penerbangan sampai Jogja sudah di tangan kami. Untuk saya pribadi yang saat itu nggak ada dompet babarblass dan cuma megang duit seratus ribu doank (itu pun dikasih Tutik huhuhu), bayangan terdampar nggak bisa pulang udah membuatku emosi jiwaaaa...

Sebagian Sogokan Komplimen dari Lion Air

Apakah drama sudah selesai?

Alhamdulillah, belum. Alhamdulillah donk, karena kami masih diberi kesabaran di drama berikutnya.

Akhirnya sekitar jam 2 siang kami take off ke Jakarta. Perjalanan Makassar-Jakarta alhamdulillah lancar. Cuaca ok. Dan saya bisa bobok dengan nyenyak. Sampai Jakarta sekitar asyar dan kami cukup buru-buru karena kami ada penerbangan lanjutan ke Jogja di jam 4. Kami si rombongan terlantar sudah bisa haha hihi lagi karena sebentar lagi balik Jogja. Ternyata penerbangan kita delay. Dan seingat saya nggak ada pemberitahuan apapun. Okay, marilah kita nunggu.

Jam setengah 5 ada penumpang yang nanya kapan nih kita berangkat dan belum ada jawaban pasti juga. Jawaban pasti baru ada saat pukul udah 5 lewat kalau nggak salah. Katanya harus ganti ban atau apalah gitu. ASDFGHJKL. Okay, marilah kita bersabar dan menunggu (lagi!). 

Hingga akhirnya pukul 6 tak jua ada kabar gembira untuk kita semua kulit manggis kini ada ekstraknya... Trus maghrib deh. Untunglah tak lama kemudiankami di panggil. Entahlah jam setengah 7 malah atau malah udah jam 7, akhirnya kami semua baru capcuss terbang ke Jogja. Akhirnyaaa... 

Drama yang di Jakarta ini sama sekali berbeda dengan di Makassar. Seingat saya, kami tak mendapatkan ucapan maaf dan komplimen apapun. Jangankan keduanya, kepastian kenapa delay aja mungkin nggak bakal kami ketahui kalau penumpang nggak pada cerewet nanyain "Kapan wooyyy kita terbang?!".

Meski mengalami drama begitu, pasti ada hikmah donk untuk yang mengalami. Untuk saya sih hikmahnya, saya jadi kenal sama temen-temen rombongan yang nggak saya kenal blass sebelum kami terdampar di Makassar. Ya maklum yaa, kampus bawa rombongan seratusan orang dari seluruh penjuru jurusan. Bahkan ada seseorang yang saya sebelin abis sebelumnya dan malah jadi temen ngobrol asyik karena terdampar ini. Jadi pas berangkat ke Makassar, kami duduk sesuai abjad. Dia duduk di samping saya karena nama depan kami cuma beda dikit banget. Sepanjang perjalanan saat berangkat, tuh orang nggak ada basa-basinya ke saya. Jangankan basa-basi, senyum sapa aja kagak, padahal kami sama-sama pakai jas almamater zzzzz... Pas terdampar ini kami jadi kenalan dan ngobrol. Saya juga bilang sekaligus minta maaf karena saya sempet mikir dia jutek. Dia bilang kalau dia emang gitu sama stranger. Kalau nggak salah inget, saat itu dia bahkan nggak ngeh kalau saya adalah orang yang duduk di sampingnya saat penerbangan ke Makassar. ERR!

Hikmah kedua adalah saya jadi merasakan betapa nikmatnya terbang malam. Ahahaha! Saya belum pernah terbang malam sebelumnya dan saya selalu parno dengan penerbangan malam hari. Karena pengalaman tersebut, saya jadi ketagihan untuk memilih terbang malam daripada terbang siang.

Pernah punya pengalaman drama di bandara juga? Share donk! :)

No comments:

Post a Comment

THE SWEET-ART LIFE © 2014