Friday, 18 December 2015

Film | Bulan Terbelah di Langit Amerika

Friday, 18 December 2015
Akhirnya ngeblog juga setelah sekian lama vakum fokus ngrampungin Iyang molornya udah nggak kira-kira ahahaa. Gimana, sudahkah agenda 2015 tercapai semua? Kalau saya sih, ada yang sudah ada yang belum. Wajar lah ya hehehe.

Kali ini ngeblog yang ringan-ringan ajalah ya, kan abis vakum *emang kapan perbah bahas bahasan berat, hm? LOLOL*.

Kemarin saya baru saja nonton salah satu film yang saya tungguin tayang di tahun ini, Bulan Terbelah di Langit Amerika. Alhamdulillah, saya puas nontonnya dan bisa mengobati kekecewaan saya sama Inferno yang batal tayang bulan ini dan diundur sampai Oktober 2016 (apa-apaan mundurnya almost setahun!).



Berhubung baru tayang kemarin jadi nggak bakal cerita detail soal filmnya, nanti jadi nggak seru lagi nontonnya. Ya, kan? Hmm... tapi boleh lah sedikit kasih spoiler :D

Bagi yang sudah baca buku dan belum menonton pasti bakal penasaran apakah film ini persis  atau enggak sama novelnya. Saya jawab sama... INTINYA! Ehehehe... ^^. Saya sih coba memahami dari POV film maker, karena merealisasikan film plek-plek’an sama novel itu nggak gampang, terlebih film yang berhubungan dengan negara lain beserta isu sensitifnya, belum lagi kebutuhan melibatkan banyak orang.

Alur Cerita
Untuk urusan alur film ini sedikit berbeda dengan novelnya. Tapi percayalah, ini justru bikin penonton gampang mencerna film ini. Bagi mereka yang belum baca novel, nggak perlu takut untuk kebanyakan nanya: ini apa, ini siapa, kok bisa gini, dsb. 

Spoiler
Jika di novel konfilk ‘perpisahan’ Hanum dan Rangga terjadi di awal mereka datang, di film ini konflik justru ada di tengah film. Sama sekali tak ada cerita mereka pisah kota seperti di novel. Mereka hanya terpisah sebentar dan masih dalam satu kota (karena tak menyebutkan kota lain).
Pertemuan Hanum dengan Azima (Julia Collins) pun berbeda dengan novel. Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika (BTDLA) menceritakan Hanum bertemu Azima pertama kali saat di museum. Kalau di film, nanti ceritanya Hanum mengunjungi rumah Azima. Kok bisa? Tau alamatnya darimana? Penasaran? Nonton filmnya, gih! Ahahhaa :p

Tokoh
Seperi alur cerita, penokohan di sini mirip-mirip sama film 99 Cahaya di Langit Eropa. Ada tokoh yang di’gedein’ umurnya sehingga perannya lebih membantu berdirinya film.

Spoiler
Novel menceritakan awal mula konflik tokoh Hanum karena tugas jurnalisme yang diberikan Getrude dan murni untuk pemberitaan bagi medianya. Tapi di film ini, tugas tersebut Getrude berikan karena adanya video seorang remaja di youtube tentang Sarah Collins yang bercerita soal keluarganya terkait tragedy 11 September.

Di film, Sarah juga tidak sekolah karena mendapat perlakuan tidak adil dari teman-temannya. Sedangkan di novel menceritakan bahwa Sarah adalah gadis kecil muslim yang juga mempelajari alkitab demi sang nenek yang menderita Alzheimer dan tentu saja Sarah sekolah.

Oiya, tokoh Ibu Julia Collins juga tidak diceritakan di sini. Alih-alih malah membuat tokoh baru yakni tetangga Julia Collins yang karakternya mirip dengan Ibu Julia, meski lebih ‘jinak’.
Pun tokoh Stefan yang jadi penampung Hanum dan Rangga selama di Amerika. Seingat saya (baca novel udah 2013 btw), Stefan tidak terlibat dalam cerita di novel tersebut.
Sebetulnya saya cukup kaget saat penokohan film dirombak. Tapi sekali lagi saya coba pahami lewat POV film maker.

Berikut opini saya jika terkait film BTDLA yang tidak dibikin plek-plek’an seperti novel:
1. Keputusan bagus! Jika dipaksakan plek, saya bertaruh nggak akan cukup kalau pakai durasi 1 ukuran film tayang di Indonesia. BTDLA adalah cerita dengan banyak kepingan dengan detil yang njelimet. Jadi, jika memaksakan membuat BTDLA menjadi 1 sekuel film pasti akan jadi ancur banget (kecuali mau bikin durasi 3 jam ahahhaa). Di sini saya bersyukur karena terdapat penyesuaian di film ini.
2. Jujur, dengan dirombaknya film ini, saya happy karena cerita terlihat lebih natural (sorry, Mbak Hanum ^^v). Why? Saat membaca novel BTDLA, saya merasa Mbak Hanum njomplang banget nulisnya kala dibandingkan dengan novel sebelumnya, 99 Cahaya di Langit Eropa. BTDLA berasa ‘ringan’ karena memiliki konklusi dengan satu inti, dimana seluruh konflik memiliki 1 hulu penyelesaian. Mungkin karena ini fiksi kali ya... Dan yang begini ini susah diterima ego penonton karena sangat juaraaang ditemukan di kehidupan nyata (yakali, alur hidup gampang...). Sedangkan di film, mereka mampu membuat ‘kemudahan konklusi’ tidak ‘terasa’, sehingga penonton nggak bakalan ngeh. Halus banget pokoknya.

Yang menjadi highlight adalah pengambilan gambar yang menurut saya kece sekali! Untuk ukuran film Indonesia, saya puas sama film ini!

Masalah cast tokoh utama, nggak ada masalah sama sekali. Memilih Acha sebagai tokoh Hanum menurut saya genius. Dari karakter wajah sampai pembawaan Acha bisa Mbak Hanum banget *kayak kenal aja guwe lah ahahaha...* *ya kan saya baca novelnyaaa*. Satu-satunya cast utama yang pengen saya ganti adalah Rianti *ini mah karena emang dasar saya nya yang nggak suka :p*.

Dan yang menarik perhatian saya banget-banget adalah karakter baru, Jasmine, kekasih Stefan yang dimainkan Hannah Al Rashid. Walaupun bukan tokon sentral, dia punya aura yang luar biasa. Duh, saya jatuh cinta banget sama akting Hannah. Berhasil banget pokoknya! Saya aja sampai baper *halah*.

Spoiler
Part yang menyita perhatian saya adalah Hannah saat minggat meninggalkan Stefan. Itu yaa... aduh... udah deh, yahud abis! *entah kenapa saya malah merasa inilah gong di film ini ahahaha!*
Pengambilan gambarnya bisa oke banget. Aktingnya juga dapet banget, padahal ‘cuma’ akting jalan doang sambil sedih. Ditambah lagi lagu Arkhana & Andini yang udah deh, MANTEP!

Intinya, film ini sangat layak ditonton *saya aja pengen nonton lagi hehehe*. Pesan-pesan juga sampai ke penonton. Pokoknya tonton aja deh! :D


No comments:

Post a Comment

THE SWEET-ART LIFE © 2014